Langsung ke konten utama

Memilih Jalan Pendidikan yang Lebih Manusiawi

 

Menjadi kepala sekolah itu tidak mudah, terutama jika kita adalah tipe orang yang peduli, bukan cuek. Karena ketika kita peduli, kita tidak hanya memikirkan aturan, tetapi juga memikirkan manusia di baliknya. Tidak hanya melihat laporan, tetapi juga melihat masa depan anak-anak yang kita bina.

Aku pernah berada di sebuah situasi yang benar-benar membingungkan. Suatu hari, salah satu orang tua datang dengan emosi. Ia memintaku mengeluarkan salah satu siswa dari sekolah. Menurutnya, anak itu nakal, sering mengganggu anaknya, dan membuat anaknya tidak nyaman.

Aku mendengarkan dengan tenang. Keluhannya ada benarnya. Anak itu memang aktif, sulit diam, dan sering mengganggu temannya. Tetapi aku juga tahu satu hal bahwa anak yang ia keluhkan baru berusia enam tahun. Dan di sisi lain, anak si ortu tersebut juga, tidak sepenuhnya pasif. Ia juga sering memancing, membalas, dan ikut terlibat.

Dalam hatiku berkecamuk. Jika anak itu aku keluarkan dari sekolah, apa yang sebenarnya sedang aku ajarkan? Bahwa ketika seorang anak bermasalah, solusinya adalah membuangnya? Bagaimana mungkin itu disebut pendidikan?

Lalu aku berpikir tentang hukuman skorsing. Tapi sekali lagi, hatiku menolak. Anak seusia itu belum memahami makna skorsing sebagai refleksi kesalahan. Yang ada, ia justru akan merasa senang karena tidak perlu sekolah. Hukuman semacam itu tidak mendidik, hanya memindahkan masalah.

Akhirnya aku memilih jalan yang lebih sunyi dan lebih melelahkan yaitu menggunakan jalur komunikasi. Aku memanggil orang tua anak tersebut. Aku tidak datang dengan nada menghakimi, tetapi dengan niat bekerja sama. Aku sampaikan kondisi anaknya apa adanya, tanpa menutup mata terhadap kekurangannya, namun juga tanpa menghilangkan harapannya.

Aku ajak orang tuanya duduk di posisi yang sama dengan sekolah, bukan untuk saling menyalahkan, tetapi untuk mencari solusi. Kami sepakat untuk bekerja bersama, menyamakan pola pendekatan di rumah dan di sekolah, menetapkan batasan yang jelas, dan memberikan penguatan yang konsisten.

Alhamdulillah, pelan-pelan perubahan itu terlihat. Anak itu mulai bisa dikendalikan. Tidak sempurna, tapi jauh lebih baik. Bukan karena takut dihukum, tetapi karena merasa diperhatikan, diarahkan, dan dipahami.

Dari pengalaman itu aku belajar satu hal penting bahwa hukuman bukan satu-satunya solusi, dan sering kali bukan solusi terbaik. Hukuman mungkin menghentikan perilaku sesaat, tetapi kerja sama, komunikasi, dan pendampinganlah yang benar-benar menyelesaikan masalah.

Pendidikan bukan tentang siapa yang paling cepat disingkirkan, tetapi tentang siapa yang paling sabar dibimbing. Dan menjadi pemimpin pendidikan berarti siap memilih jalan yang tidak populer, tetapi benar.

Karena setiap anak, seberat apa pun tantangannya, selalu punya peluang untuk berubah ketika orang dewasa di sekitarnya mau berjalan bersama. Dan di situlah makna pendidikan yang sesungguhnya bukan menghukum untuk menenangkan emosi, tetapi mendidik untuk menyiapkan masa depan.

Komentar