Menjadi kepala sekolah bukanlah impianku. Bahkan, jika beberapa tahun lalu ada yang berkata bahwa aku akan duduk di posisi ini, mungkin aku hanya akan tersenyum dan menggeleng pelan.
Aku memulai semuanya sebagai seorang guru honorer. Biasa saja. Tanpa jabatan, tanpa fasilitas, dan tentu saja tanpa rencana besar untuk karier. Satu-satunya impianku saat itu hanya satu: melanjutkan studi ke jenjang S2.
Sejak lulus S1 Pendidikan Matematika, keinginan itu sudah tumbuh. Aku ingin belajar lebih dalam, memperluas cara berpikir, dan menambah bekal ilmu. Namun realitas berkata lain. Biaya menjadi penghalang. Impian itu pun kusimpan rapi, sambil terus menjalani hari sebagai guru honorer dengan penuh keterbatasan.
Ia terdiam sejenak, lalu berkata, “Tapi itu tidak linear dengan ijazahmu. Lulusan Manajemen Pendidikan biasanya jadi kepala sekolah atau kerja di dinas.”
Sejak hari itu, impian S2 terasa semakin jauh. Aku kembali meyakinkan diri bahwa mungkin memang bukan jalanku.
Namun enam bulan kemudian, entah mengapa, keinginan itu muncul lagi. Lebih kuat, lebih mendesak. Bukan karena jabatan, bukan karena gengsi, tapi karena rasa haus akan ilmu yang sulit dijelaskan.
Aku sampaikan niat itu kepada ibuku. Dengan nada yang tenang, beliau hanya berkata, “Silakan daftar.”
Tidak ada ceramah panjang. Tidak ada perhitungan karier. Hanya izin dan doa seorang ibu.
Tanpa berpikir panjang, aku pun mendaftar kuliah S2 Manajemen Pendidikan. Niatku sederhana: menuntut ilmu. Aku tidak membayangkan posisi apa pun setelahnya. Aku tidak mengejar gelar untuk dikenal. Aku hanya ingin belajar, karena aku yakin ilmu yang diniatkan karena Allah tidak akan sia-sia.
Hari-hari kuliah kulalui sambil tetap mengajar. Lelah, tentu. Tapi ada ketenangan yang tidak bisa dijelaskan. Aku merasa sedang berada di jalur yang benar, meski tidak tahu ujungnya di mana.
Hingga hampir selesai S2, sebuah lowongan kepala sekolah terbuka. Aku melihatnya, lalu tersenyum kecil. Aku tidak berharap apa-apa. Aku hanya mencoba, sekadar memasukkan lamaran, dengan perasaan pasrah.
Dan di luar dugaanku, Allah mengizinkan. Aku diterima.
Saat itu aku benar-benar terdiam. Bukan karena bangga, tetapi karena takjub. Jalan yang dulu kupikir mustahil, ternyata disiapkan pelan-pelan oleh Allah, jauh sebelum aku memahaminya.
Hari ini aku berdiri sebagai kepala sekolah, bukan karena ambisiku, tetapi karena takdir Allah yang disusun lewat niat yang diluruskan. Dan itu membuatku selalu ingat, bahwa jabatan hanyalah amanah, sementara ilmu dan niat adalah cahaya yang menuntun langkah.
Semoga cerita ini menjadi pengingat, bahwa tidak semua impian harus kita pahami di awal. Tugas kita hanya satu, melangkah dengan niat yang benar. Selebihnya, biarlah Allah yang menyempurnakan jalannya.

Komentar
Posting Komentar